
Hobi Minum Matcha? Awas, Zat Besi Bisa Susah Nyerap Ke Tubuh!
Hobi Minum Matcha? Awas, Zat Besi Bisa Susah Nyerap Ke Tubuh Yang Wajib Kalian Pahami Untuk Nantinya Lebih Selektif. Minuman satu ini mengandung kadar tanin dan katekin yang sangat tinggi. Karena terbuat dari daun teh hijau utuh yang di giling halus jadi wajib tahu bagi kalian yang Hobi Minum Matcha. Sehingga seluruh komponen aktifnya ikut di konsumsi. Tanin adalah senyawa polifenol yang memberikan rasa pahit. Dan juga sepat padanya, sementara katekin, khususnya jenis EGCG (epigallocatechin gallate).
Serta yang merupakan antioksidan kuat yang memberi banyak manfaat kesehatan. Namun, kedua senyawa ini memiliki sifat mengikat mineral. Terutama zat besi non-heme yang berasal dari sumber nabati. Contohnya seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, dan tahu. Ketika tanin dan katekin bertemu dengan zat besi di saluran pencernaan. Terlebih yang keduanya dapat membentuk ikatan kompleks yang tidak larut air. Ikatan ini membuat zat besi sulit di serap oleh tubuh. Dan akhirnya terbuang bersama sisa pencernaan. Dan efek penghambatan ini lebih besar terhadap zat besi non-heme. Jadi wajib kamu ketahui bagi kamu yang Hobi Minum Matcha.
Matcha Hambat Penyerapan Zat Besi, Kata Ahli Yang Sebaiknya Di Pahami
Kemudian juga masih membahas Matcha Hambat Penyerapan Zat Besi, Kata Ahli Yang Sebaiknya Di Pahami. Dan penjelasan lainnya adalah:
Dampak Lebih Besar Terhadap Zat Besi Non-Heme
Dampak penghambatan penyerapan zat besi oleh minuman ini lebih besar terhadap jenis zat besi non-heme. Terlebihnya yaitu zat besi yang berasal dari sumber nabati seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, tahu. Kemudian dengan tempe, dan produk olahan nabati lainnya. Zat besi non-heme memiliki sifat kimia yang lebih mudah bereaksi dengan senyawa penghambat. Tentunya seperti tanin dan katekin yang terdapat dalamnya. Kedua senyawa polifenol ini mampu berikatan dengan ion besi non-heme di saluran pencernaan. Dan juga membentuk senyawa kompleks yang tidak larut air. Sehingga zat besi tersebut menjadi sulit di serap oleh dinding usus. Berbeda dengan zat besi heme yang terdapat pada produk hewani seperti daging merah, hati, ikan. Serta juga dengan ayam, zat besi non-heme memiliki tingkat keterserapan (bioavailabilitas) yang lebih rendah secara alami.
Terlalu Banyak Matcha, Ferrum Bakal Sulit Di Serap Menurut Pakarnya
Selain itu, masih membahas Terlalu Banyak Matcha, Ferrum Bakal Sulit Di Serap Menurut Pakarnya. Dan fakta lainnya adalah:
Efek Signifikan Jika Di Minum Bersamaan Dengan Makanan
Hal ini tentu menjadi jauh lebih signifikan ketika minuman ini di konsumsi bersamaan dengan makanan. Terutama yang mengandung zat besi non-heme dari sumber nabati. Tentunya seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, atau produk kedelai. Hal ini terjadi karena kandungan polifenol. Dan terutama tanin dan katekin. Karena di dalamnya dapat langsung berinteraksi dengan zat besi yang sedang berada di saluran pencernaan. Terlebih pada saat proses pencernaan makanan berlangsung. Dalam kondisi ini, polifenol akan mengikat ion besi non-heme yang baru saja di lepaskan dari makanan. Lalu membentuk senyawa kompleks yang tidak larut air. Kompleks ini tidak dapat menembus dinding usus untuk masuk ke aliran darah. Sehingga sebagian besar zat besi akan terbuang bersama sisa pencernaan. Penelitian menunjukkan bahwa ketika matcha. Ataupun juga teh hijau di minum berdekatan dengan waktu makan, penyerapan zat besi non-heme dapat menurun secara drastis.
Terlalu Banyak Konsumsi Matcha, Ferrum Bakal Sulit Di Serap Menurut Pakarnya Gizi
Selanjutnya juga masih membahas Terlalu Banyak Konsumsi Matcha, Ferrum Bakal Sulit Di Serap Menurut Pakarnya Gizi. Dan penjelasan berikutnya adalah:
Risiko Tertentu Bagi Golongan Tertentu
Hal ini akan lebih besar pada golongan tertentu yang kebutuhan zat besinya tinggi atau yang sudah berada pada kondisi rawan defisiensi. Kelompok ini cenderung lebih sensitif terhadap efek polifenol. Terutama tanin dan katekin. Karena yang terdapat dalamnya. Sehingga dampaknya terhadap status zat besi mereka bisa lebih cepat terasa. Jika di bandingkan orang dengan cadangan zat besi normal. Golongan pertama yang berisiko adalah wanita usia reproduktif. Tentunya yang mengalami menstruasi setiap bulan. Kehilangan darah secara rutin membuat kebutuhan zat besi mereka lebih tinggi di bandingkan pria. Sehingga jika penyerapan zat besi terganggu, risiko anemia defisiensi besi meningkat. Golongan kedua adalah ibu hamil, yang membutuhkan zat besi dalam jumlah lebih besar.
Jadi itu dia beberapa penjelasan ahli gizi soal permasalahan penyerapan zat besi bagi kamu yang Hobi Minum Matcha.