
Pendidikan seringkali disebut sebagai “jendela dunia,” namun bagi bangsa Indonesia di masa lampau, jendela tersebut sempat tertutup rapat oleh sekat-sekat kolonialisme.
Pendidikan seringkali disebut sebagai “jendela dunia,” namun bagi bangsa Indonesia di masa lampau, jendela tersebut sempat tertutup rapat oleh sekat-sekat kolonialisme. Di tengah upaya mencari identitas dan kemerdekaan, muncul sebuah konsep institusi pendidikan yang merakyat, inklusif, dan penuh semangat pembebasan: Sekolah Rakyat (SR). Lebih dari sekadar gedung tempat belajar, Sekolah Rakyat adalah simbol perlawanan terhadap diskriminasi intelektual yang di terapkan oleh penjajah.
Menelusuri Jejak Sejarah: Dari Zaman Belanda ke Awal Kemerdekaan
Sejarah Sekolah Rakyat tidak dapat di pisahkan dari kebijakan pendidikan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, pendidikan adalah barang mewah yang hanya bisa di nikmati oleh anak-anak keturunan Eropa atau kaum bangsawan (priyayi). Rakyat jelata hanya di berikan akses terbatas melalui Sekolah Desa atau Volksschool yang masa belajarnya hanya tiga tahun. Dengan kurikulum yang sangat dasar—hanya cukup agar mereka bisa membaca dan berhitung untuk menjadi buruh administratif murah bagi Belanda.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, pemerintah segera menyadari bahwa buta aksara adalah musuh besar selain agresi militer. Pada masa ini, sistem pendidikan di rombak. Nama-nama berbau kolonial dihapuskan. Vervolgschool (sekolah lanjutan) dan Volksschool di lebur menjadi satu entitas baru yang di sebut Sekolah Rakyat (SR) dengan masa belajar enam tahun.
Perubahan nama ini bukan sekadar urusan administratif. Kata “Rakyat” di pilih secara sadar untuk menegaskan bahwa pendidikan kini milik semua orang, tanpa memandang status sosial, kasta, atau kekayaan.
Filosofi Pendidikan: Memanusiakan Manusia
Filosofi Pendidikan: Memanusikan Manusia. di balik Sekolah Rakyat sangat di pengaruhi oleh pemikiran para tokoh pendidikan bangsa, terutama Ki Hadjar Dewantara. Beliau menekankan bahwa pendidikan haruslah bersifat “nasional” dan “demokratis.”
-
Pendidikan Berbasis Kebudayaan: SR tidak hanya mengajarkan angka dan huruf, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur budaya lokal untuk membendung pengaruh budaya Barat yang di anggap tidak sesuai dengan jati diri bangsa.
-
Kemandirian (Self-Help): Karena keterbatasan dana pemerintah di awal kemerdekaan, banyak Sekolah Rakyat di dirikan secara swadaya oleh masyarakat. Warga desa gotong-royong membangun gedung dari bambu dan kayu demi memastikan anak-anak mereka bisa sekolah.
-
Alat Pemersatu: Di sekolah inilah bahasa Indonesia mulai di gunakan secara masif sebagai bahasa pengantar, menyatukan anak-anak dari berbagai latar belakang suku yang berbeda dalam satu identitas nasional.
Kurikulum di SR masa awal sangat menekankan pada pembentukan karakter dan keterampilan praktis. Mata pelajaran utama meliputi:
-
Membaca, Menulis, dan Berhitung (Calistung): Sebagai fondasi utama pemberantasan buta aksara.
-
Ilmu Alam dan Bumi: Mengenalkan kekayaan nusantara.
-
Pendidikan Jasmani: Membentuk generasi yang tangguh secara fisik.
-
Kesenian dan Budi Pekerti: Menanamkan moralitas dan etika.
Satu hal yang unik dari era SR adalah kedekatan antara guru dan murid. Guru SR atau “Bapak/Ibu Guru” di pandang sebagai tokoh terhormat di masyarakat. Mereka bukan hanya pengajar, tapi juga penasihat sosial. Meskipun sarana prasarana sangat minim—seringkali menggunakan sabak (papan tulis kecil) dan grip daripada buku tulis—semangat belajar siswa saat itu sangat tinggi.
Transformasi Menjadi Sekolah Dasar (SD)
Istilah Sekolah Rakyat bertahan hingga tahun 1964. Berdasarkan keputusan pemerintah, sistem pendidikan dasar kembali mengalami standardisasi dan nama Sekolah Rakyat secara resmi di ubah menjadi Sekolah Dasar (SD).
Perubahan ini menandai era baru di mana pemerintah mulai lebih fokus pada pembangunan infrastruktur fisik secara masif. Namun, bagi generasi yang lahir di tahun 40-an hingga 50-an, nama “SR” tetap memiliki tempat emosional yang mendalam. Mereka mengingatnya sebagai masa di mana pendidikan adalah sebuah perjuangan kolektif yang penuh kesederhanaan namun kaya akan makna.
Sekolah Rakyat di Era Modern: Relevansi yang Tak Pernah Pudar
Sekolah Rakyat di Era Modern: Relevansi yang Tak Pernah Pudar. Meski secara formal nama SR sudah hilang, semangatnya tetap hidup melalui berbagai inisiatif pendidikan alternatif. Saat ini, muncul kembali istilah “Sekolah Rakyat” dalam bentuk:
-
Pendidikan Luar Sekolah: Komunitas-komunitas yang memberikan bimbingan belajar gratis bagi anak-anak jalanan atau kurang mampu.
-
Sekolah Alam dan Komunitas: Institusi yang mencoba mendobrak kekakuan kurikulum formal dengan kembali ke alam dan kearifan lokal, mirip dengan semangat awal SR.
Tantangan pendidikan kita saat ini memang berbeda. Kita tidak lagi melawan penjajah fisik, melainkan melawan ketertinggalan teknologi dan krisis karakter. Namun, prinsip Sekolah Rakyat bahwa “pendidikan harus menyentuh akar rumput” tetap menjadi solusi paling relevan.
Berikut adalah tokoh-tokoh kunci di balik kelahiran dan perkembangan konsep Sekolah Rakyat di Indonesia:
Ki Hadjar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional)
Beliau adalah sosok paling sentral. Melalui perguruan Taman Siswa yang didirikannya pada tahun 1922, Ki Hadjar memberikan cetak biru bagi apa yang kemudian menjadi Sekolah Rakyat.
-
Peran: Melawan sistem pendidikan Belanda yang diskriminatif dan materialistik.
-
Kontribusi: Beliau memperkenalkan semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Konsep ini diterapkan di SR untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan demokratis antara guru dan murid, berbeda dengan gaya pendidikan kolonial yang kaku.
Mohamad Sjafei (Pendiri INS Kayutanam)
Jika Ki Hadjar kuat di Jawa, Mohamad Sjafei membangun fondasi pendidikan rakyat di Sumatra Barat melalui INS (Indonesisch Nederlandsche School) Kayutanam pada tahun 1926.
-
Peran: Menekankan pada pendidikan yang praktis dan mandiri.
-
Kontribusi: Sjafei percaya bahwa murid Sekolah Rakyat tidak boleh hanya menjadi “tukang hafal”. Beliau mengajarkan keterampilan tangan (pertukangan, pertanian) agar lulusan SR bisa mandiri secara ekonomi tanpa harus bergantung menjadi pegawai pemerintah kolonial.
Ki Sarmidi Mangunsarkoro
Ki Sarmidi Mangunsarkoro Beliau adalah Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Indonesia (1949–1950) yang sangat gigih memperjuangkan UU Pendidikan No. 4 Tahun 1950.
-
Peran: Peletak dasar hukum sistem pendidikan nasional pasca-kemerdekaan.
-
Kontribusi: Di bawah kepemimpinannya, istilah Sekolah Rakyat (SR) 6 Tahun mulai di resmikan secara luas secara administratif untuk menggantikan sisa-sisa sistem sekolah Belanda. Beliau memastikan bahwa kurikulum SR harus mengandung semangat nasionalisme yang kuat.
Tan Malaka
Meskipun lebih di kenal sebagai tokoh revolusioner politik, Tan Malaka memiliki peran besar dalam mendirikan Sekolah SI (Serikat Islam) yang sering di sebut sebagai prototipe sekolah untuk rakyat jelata di Semarang.
-
Peran: Pendidikan sebagai alat pembebasan kaum proletar (rakyat kecil).
-
Kontribusi: Beliau menulis buku Madilog dan panduan pendidikan yang menekankan pada berpikir kritis dan logis. Baginya, Sekolah Rakyat harus mampu membuat rakyat sadar akan hak-hak mereka sebagai manusia merdeka.
K.H. Ahmad Dahlan
Melalui organisasi Muhammadiyah, beliau melakukan revolusi pendidikan dengan menggabungkan sistem sekolah modern (klasikal) dengan pendidikan agama.
-
Peran: Modernisasi pendidikan pesantren menjadi sekolah yang lebih terstruktur.
-
Kontribusi: Sekolah-sekolah yang di dirikannya menjadi inspirasi bagi model Sekolah Rakyat yang tidak hanya mengajarkan ilmu umum, tetapi juga membentuk karakter religius yang kuat bagi masyarakat pedesaan.
Kesimpulan
Sekolah Rakyat adalah monumen sejarah yang membuktikan bahwa pendidikan adalah hak asasi, bukan hak istimewa. Ia lahir dari rahim perjuangan dan tumbuh di atas landasan gotong royong. Meskipun kini kita mengenalnya sebagai Sekolah Dasar. Semangat inklusivitas Sekolah Rakyat harus terus di jaga agar tidak ada lagi anak bangsa yang “tertinggal di kelas” hanya karena kendala ekonomi atau geografis.
kita bisa menyimpulkan bahwa setiap fasilitas pendidikan modern yang kita nikmati hari ini adalah buah dari benih kesederhanaan yang ditanam di masa lalu. Semangat itulah yang harus tetap menyala dalam setiap institusi pendidikan kita, karena pada dasarnya. Setiap upaya mencerdaskan bangsa adalah kelanjutan dari napas Sekolah Rakyat