Alasan Antonio Conte Protes Wasit Usai Napoli Takluk Dari Como

Alasan Antonio Conte Protes Wasit Usai Napoli Takluk Dari Como

Alasan Antonio Conte Protes Wasit Usai Napoli Takluk Dari Como Yang Membuatnya Jadi Penuh Amarah Dalam Pernyataannya. Kekalahan Napoli dari Como 1907 di ajang Coppa Italia 2025–2026 bukan sekadar hasil pahit di papan skor. Laga perempat final yang berlangsung di Stadion Diego Armando Maradona, Rabu (11/2/2026) dini hari WIB. Dan justru memantik polemik besar setelah pelatih Napoli, Antonio Conte, melontarkan kritik tajam kepada wasit dan penyelenggara kompetisi. Napoli harus tersingkir usai kalah 6-7 dalam adu penalti. Tentunya setelah bermain imbang 1-1 selama waktu normal.

Baginya, kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena terjadi melawan Cesc Fabregas. Dan mantan anak asuhnya saat masih menangani Chelsea. Namun, emosi Antonio Conte bukan hanya di picu oleh faktor nostalgia. Ia menilai ada sejumlah keputusan dan kondisi yang merugikan timnya. Sehingga protes keras pun tak terhindarkan. Berikut alasan-alasan utama di balik kemarahan pelatih berkarakter keras tersebut.

Kontroversi Keputusan Wasit Yang Di Nilai Merugikan Napoli

Salah satu pemicu utama kemarahannya adalah Kontroversi Keputusan Wasit Yang Di Nilai Merugikan Napoli. Ia menyoroti insiden pada menit ke-49 ketika bek Como, Jacobo Ramon, melakukan pelanggaran keras terhadap Rasmus Hojlund. Dalam pandangan Conte, pelanggaran tersebut layak diganjar kartu merah. Karena berpotensi mencederai pemain dan menghentikan peluang berbahaya. Namun, wasit hanya memberikan hukuman ringan tanpa mengusir pemain Como dari lapangan. Keputusan ini membuatnya merasa Napoli dirugikan secara signifikan.

Terlebih laga berjalan ketat dan di tentukan hingga adu penalti. Menurutnya, keputusan krusial seperti ini bisa mengubah jalannya pertandingan secara drastis. Lebih jauh, ia juga menyinggung performa wasit dan VAR secara umum sepanjang musim ini. Ia menilai inkonsistensi keputusan semakin sering terjadi. Dan memicu keluhan dari banyak tim. Meski sempat menyatakan bahwa tidak seharusnya selalu menyalahkan wasit. Kemudian ia secara tegas mengakui bahwa musim ini bukan periode yang ideal bagi perangkat pertandingan di Italia.

Jadwal Padat Dan Waktu Istirahat Yang Tidak Seimbang

Selain persoalan wasit, ia juga menyoroti Jadwal Padat Dan Waktu Istirahat Yang Tidak Seimbang. Ia membandingkan kondisi fisiknya dengan Como jelang laga perempat final tersebut. Napoli baru saja menjalani pertandingan melelahkan melawan Genoa di Serie A. Bahkan harus bermain dengan 10 orang setelah Juan Jesus diganjar kartu merah. Situasi tersebut membuat Napoli datang ke laga Coppa Italia dengan kondisi fisik yang terkuras. Sementara itu, Como disebut memiliki waktu istirahat yang lebih panjang dan persiapan yang lebih ideal.

Perbedaan ini, menurutnya, sangat berpengaruh terhadap intensitas dan stamina pemain di lapangan. Dalam sepak bola modern yang menuntut tempo tinggi, faktor kebugaran menjadi kunci. Sosoknya menilai penyusunan jadwal seharusnya lebih memperhatikan asas keadilan, terutama bagi tim yang berlaga di berbagai kompetisi. Transisi dari satu laga berat ke laga krusial. Tentunya tanpa jeda memadai di nilai sebagai kerugian tersendiri baginya.

Kekalahan Menyakitkan Dari Mantan Anak Asuh

Faktor emosional juga tak bisa di lepaskan dari Kekalahan Menyakitkan Dari Mantan Anak Asuh. Dan sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam skuad Chelsea saat Conte meraih kesuksesan di Inggris. Kini, Fabregas justru berdiri di sisi berlawanan sebagai pelatih Como dan sukses menyingkirkan Napoli dari Coppa Italia. Bagi Conte, hasil ini tentu menyisakan kekecewaan berlapis. Bukan hanya karena Napoli gagal melangkah lebih jauh. Akan tetapi juga karena kekalahan terjadi di kandang sendiri dan melalui drama adu penalti. Situasi tersebut membuat rasa frustrasi semakin memuncak. Apalagi Conte merasa timnya sudah berjuang maksimal di tengah berbagai keterbatasan.

Meski demikian, ia tetap menegaskan bahwa protesnya bukan semata-mata alasan untuk menutupi kekalahan. Ia berharap kritik yang di sampaikan dapat menjadi bahan evaluasi bagi federasi, wasit, dan penyelenggara liga. Menurutnya, perbaikan kualitas kepemimpinan pertandingan dan penjadwalan yang lebih adil sangat di butuhkan agar kompetisi berjalan lebih sehat. Pada akhirnya, kemarahannya mencerminkan besarnya tuntutan. Kemudian tekanan di level tertinggi sepak bola Italia. Kekalahan dari Como mungkin telah menutup langkahnya di Coppa Italia musim ini. Akan tetapi pernyataan kerasnya membuka diskusi lebih luas. Tentunya tentang keadilan, konsistensi, dan profesionalisme dalam kompetisi dari Antonio Conte.