Lionel Messi ke India: Antusiasme yang Berujung Kekacauan

Kedatangan megabintang sepak bola dunia, Lionel Messi, selalu memicu gelombang euforia di mana pun ia berada. India, sebuah negara dengan populasi masif dan basis penggemar sepak bola yang besar khususnya untuk timnas Argentina tidak terkecuali

Kedatangan megabintang sepak bola dunia, Lionel Messi, selalu memicu gelombang euforia di mana pun ia berada. India, sebuah negara dengan populasi masif dan basis penggemar sepak bola yang besar khususnya untuk timnas Argentina tidak terkecuali. Namun kunjungan terbaru peraih banyak Ballon d’Or tersebut ke Kolkata, sebagai bagian dari tur promosi yang bertajuk “GOAT India Tour,” berakhir dengan sebuah ironi yang pahit: Antusiasme yang membuncah justru berujung pada kekecewaan massal dan kekacauan.

Peristiwa yang terjadi di Stadion Salt Lake, Kolkata, pada akhir pekan lalu menjadi sorotan utama media internasional. Rencana kedatangan Messi telah lama di nanti, menjanjikan serangkaian acara yang mencakup penampilan di stadion. Klinik sepak bola usia muda, dan peluncuran kegiatan amal di berbagai kota. Bagi para penggemar di India, khususnya di Kolkata yang di kenal sebagai “Kota Sepak Bola” dengan sejarah kecintaan pada Argentina yang mendalam, momen ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah ziarah langka, mungkin sekali seumur hidup, untuk melihat idola mereka secara langsung.

Antusiasme yang tinggi tercermin dari ludesnya tiket acara, meskipun harganya terbilang mahal bagi rata-rata masyarakat India. Harga tiket termurah di laporkan mulai dari 3.500 Rupee (sekitar Rp645.000). Dan beberapa penggemar bahkan membayar hingga 12.000 Rupee (sekitar Rp2,2 juta) untuk mendapatkan tempat terbaik. Angka ini signifikan, bahkan melebihi setengah dari pendapatan rata-rata mingguan per kapita di India. Pengorbanan finansial ini menunjukkan betapa besarnya nilai emosional yang di lekatkan para fans pada kunjungan Messi. Banyak di antara mereka yang datang dari luar kota, menempuh perjalanan jauh, hanya demi sedetik pandang terhadap bintang mereka.

Ekspektasi penggemar juga melampaui sekadar melihat. Sebagian besar berharap Messi akan berpartisipasi dalam semacam pertandingan ekshibisi atau setidaknya melakukan beberapa atraksi yang melibatkan bola, seperti tendangan penalti atau skill individu, yang tentunya akan menjadi kenangan tak terlupakan.

Ironi Waktu Singkat dan Kerumunan Pejabat

Namun, ekspektasi tinggi tersebut harus berhadapan dengan realitas yang mengecewakan. Berdasarkan laporan dari berbagai sumber, Messi hanya berada di Stadion Salt Lake selama kurang lebih 20 menit. Jauh lebih singkat dari durasi yang di jadwalkan (beberapa menyebutkan awalnya 45 menit). Lebih parah lagi, selama berada di lapangan, sosok Messi di kelilingi oleh kawalan yang sangat ketat, yang terdiri dari pengawal pribadi, pejabat tinggi politik, selebritas lokal, dan pengusaha kaya.

Kritikan keras pun muncul. Para penggemar di tribun merasa terhalang pandangannya oleh kerumunan figur-figur penting ini. Mereka datang untuk melihat “GOAT” (Greatest Of All Time). Tetapi yang mereka lihat hanyalah punggung para pemimpin dan pengusaha yang berebut spotlight di samping sang bintang. “Dia hanya datang selama 10 menit. Semua pemimpin dan menteri mengerumuninya. Kami tidak bisa melihat apa pun,” keluh seorang penggemar, merasa bahwa momen langka tersebut telah dibajak oleh kaum elite.

Kunjungan yang singkat dan kehadiran Messi yang terus menerus tertutup menciptakan rasa frustrasi yang mendalam. Para penggemar merasa di kelabui dan tidak di hargai. Mereka membayar mahal untuk mendapatkan akses ke idola mereka, tetapi hanya mendapatkan pandangan sekilas yang tidak memuaskan. Kekecewaan ini menjadi pemantik utama yang mengubah suasana euforia menjadi kemarahan yang membara.

Kekacauan dan Anarki di Stadion

Ketika kepergian Messi dari stadion menjadi jelas, suasana tidak terkendali lagi. Emosi yang terpendam segera meledak menjadi tindakan anarkis.

  • Pelemparkan Benda: Awalnya, penonton mulai melemparkan botol air dan berbagai benda ke arah lapangan sebagai luapan protes.
  • Perusakan Fasilitas: Amarah memuncak hingga penonton mulai merusak fasilitas stadion. Bangku-bangku plastik di cabut dan di lemparkan ke tengah lapangan. Spanduk dan tenda-tenda promosi juga di robek dan di rusak.
  • Invasi Lapangan: Sejumlah besar penggemar yang marah dan kecewa menyerbu lapangan, meluapkan kekesalan mereka atas buruknya manajemen acara.

Polisi dan aparat keamanan berjuang keras untuk mengendalikan situasi, yang pada akhirnya memerlukan penahanan terhadap ketua penyelenggara acara, Satadru Dutta. Ketua Menteri Benggala Barat, Mamata Banerjee, bahkan mengungkapkan keterkejutannya atas insiden tersebut dan meminta maaf secara terbuka kepada publik. Menjanjikan penyelidikan mendalam atas kegagalan manajemen acara ini.

Seorang penggemar yang datang dari Mizoram, menempuh perjalanan hampir 1.500 kilometer, mengungkapkan kekecewaannya kepada media: “Saya tidak percaya ada begitu banyak kesalahan manajemen. Messi pergi dengan cepat. Saya hampir tidak bisa melihatnya.” Sentimen ini mencerminkan perasaan ribuan orang yang merasa waktu, emosi, dan uang mereka terbuang sia-sia.

Tanggapan Resmi dari Pihak India

  • Permintaan Maaf Resmi: Ketua Menteri Benggala Barat, Mamata Banerjee, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada Lionel Messi, para pecinta olahraga, dan penggemar atas insiden yang tidak menguntungkan tersebut.

  • Tindakan Hukum: Kepolisian India bertindak cepat dengan menahan penyelenggara utama (promotor) acara tersebut, Satadru Dutta, atas tuduhan salah urus (mismanajemen) acara berskala internasional yang berujung pada kerusuhan dan pengrusakan.

  • Janji Pengembalian Dana: Promotor yang ditahan telah berjanji secara tertulis bahwa tiket yang telah terjual akan dikembalikan (refund) kepada para penggemar yang kecewa.

  • Penyelidikan: Otoritas setempat telah membentuk komite untuk melakukan penyelidikan mendalam mengenai insiden tersebut.

Insiden di Kolkata ini menyajikan sebuah pelajaran penting bagi penyelenggara acara olahraga besar di masa depan, terutama yang melibatkan ikon global sekelas Lionel Messi.

  1. Pengelolaan Ekspektasi: Panitia gagal dalam mengelola ekspektasi publik. Jika acara tersebut murni merupakan penampilan promosi singkat tanpa kegiatan sepak bola, hal tersebut harus di komunikasikan secara jelas dan transparan sejak awal, termasuk durasi waktu yang pasti. Menjual tiket dengan harga premium sambil memberikan pengalaman yang jauh di bawah standar adalah resep pasti menuju bencana.
  2. Keamanan dan Aksesibilitas Bintang: Meskipun keamanan adalah prioritas utama, kehadiran Messi yang terus menerus tertutup oleh rombongan pejabat justru menjadi bumerang. Hal ini tidak hanya menghalangi pandangan penggemar yang telah membayar, tetapi juga menimbulkan persepsi bahwa akses ke bintang tersebut lebih di prioritaskan untuk kaum elite daripada masyarakat umum. Perlu ada keseimbangan antara keamanan dan memberikan pengalaman visual yang memuaskan bagi penonton di stadion.
  3. Kualitas Manajemen Acara: Kesalahan manajemen yang parah, mulai dari penentuan harga tiket, durasi penampilan, hingga pengendalian massa, menunjukkan adanya kelemahan fundamental dalam organisasi acara tersebut. Sebuah kota yang di kenal dengan kecintaannya pada sepak bola seperti Kolkata, seharusnya mampu menyelenggarakan event sebesar ini tanpa insiden yang mencoreng citra.

Kunjungan Lionel Messi ke India, yang seharusnya menjadi tonggak sejarah yang membanggakan bagi sepak bola Asia Selatan. Justru berakhir sebagai sebuah catatan kaki yang menyedihkan dalam buku harian olahraga. Euforia yang luar biasa di awal berubah menjadi simbol kekecewaan kolektif, menyoroti tantangan besar dalam menyelenggarakan acara megastar di tengah antusiasme publik yang tak terbatas dan kerumitan logistik.Insiden ini akan dikenang bukan karena kehadiran sang legenda, melainkan karena kekacauan yang merusak semangat sejati sepak bola semangat yang seharusnya menyatukan, bukan memecah belah, penggemar dan idolanya Lionel Messi